|
Kualitas Lahan pada
Hidrologi |
Hidrologis/ Kualitas panjang kanal sampai
sungai |
Rekomendasi dan Potensi Penggunaan
|
|
1.1
Acaman (bahaya) intrusi air asin
|
1.1.1
Areal dimana intrusi air asin di saluran berlangsung selama 3 – 6 bulan
|
Hanya
berpotensi untuk tanam padi sekali setahun. Perlu diberikan perhatian ekstra
untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga. Tanaman keras bisa saja merupakan
pilihan yang lebih baik di areal dimana kedalaman efektif drainasenya
memadai. Di areal dengan kisaran pasang surut yang kecil dianjurkan budidaya
ikan/ udang. |
|
1.1.2
Areal dimana instrusi air asin di saluran berlangsung kurang dari 3 bulan. |
Potensial untuk tanama
padi dua kali setahun. Sebagian terbesar dari lahan pasang surut yang sudah
direklamasi tergolong dalam klasifikasi ini.
|
|
1.2 Areal dimana kisaran pasang surutnya <
30 cm dalam musim hujan di sungai/ saluran primer/ saluran sekunder yang
terdekat; jarak dari lokasi sampai saluran < 1,5 km.
(jika jarak ke saluran primer/ sekunder > 1,5 km kawasan
semacam ini tidak tergolonglahan pasang surut.)
|
1.2.1
Areal dengan panjang
kanal < 8 km sampai sungai pasang surut.
Kisaran
pasang surut yang kecil di saluran pada panjang kanal < 8 km sampai sungai
menunjukkan bahwa daerah semacam ini sudah berada di luar jangkauan engaruh
pasang surut sungai, mendekati kepada bagain dari bantaran banjir sungai. |
Areal
semacam ini umumnya berbatasan dengan lebak (dataran banjir) dan biasanya
memerlukan tanggul pengaman banjir. Pola tanaman harus disesuaikan dengan
kondisi setempat. Perlu kehati-hatian terhadap tanah sulfat masam. Irigasi
pompa sangat diperluka untuk lahan jenis ini. Aliran air satu arah di
saluran dinilai penting. |
|
1.2.1
Areal dengan panjang
kanal > 8 km sampai sungai pasang surut.
Kisaran
pasang surut yang kecil di sini biasanya menunjukkan daerah ini masih
terjangkau oleh pasang surut muka air sungai, hanya masalahnya letaknya
terlampau jauh dari sungai. Diperlukan tindakan ekstra untuk pengaturan air
di saluran. |
Perlu perhatian khusus terhadap tanah sulfat
masam. Apabila ada tanah sulfat masam maka perlu dijaga agar tanah tersebut
dalam keadaan basah dimusim kemarau (lihat tipe luapan 2.2).
Irigasi
pompa umunya sangat penting. Saluran primer utama perlu sejajar sungai dan
dilengkapi dengan bangunan pengatur air searah. |
|
1.3 Areal dengan kisaran pasang surut >
30 cm selama musim hujan di sungai/ saluran primer/ saluran sekunder yang
terdekat;
jarak dari lokasi
ke saluran < 1,5 km. |
1.3 Areal
yang berbatasan dengan jangkauan pasang surut sungai. |
Bagian terbesar dari lahan rawa pasang surut berada di
kawasan ini.
|
|
Kualitas Hidrologis
Tipe Luapan
|
Hidrologis/ Kualitas panjang kanal sampai
sungai |
Rekomendasi dan Potensi Penggunaan
|
|
2.1 Irigasi pasang
surut (pasut)
Tipe luapan pasut A/B.
Panjang
kanal sampai sungai akan mempengaruhi potensi irigasi pasut dan tipe irigasi
pasut.
|
2.1.1
Kawasan dengan panjang kanal < 1,5 km sampai sungai pasang surut, tidak ada
genangan/ luapan dalam. |
Kawasan
yang mudah dikelola saluran sistem terbuka baik untuk suplai air dan
drainase. Kawasan ini biasanya dikuasai oleh petani lokal yang telah ada
sejak awal. |
|
2.1.2
Kawasan dengan panjang kanal < 1,5 km sampai sungai pasang surut, genangan/
luapan dalam. |
Tanggul
untuk pengamanan banjir diperlukan. Diperlukan bangunan pengendali di
tanggul. |
|
2.1.3
Kawasan dengan panjang kanal > 1,5 km sampai
sungai pasang surut.
Irigasi
pasut tergantung kepada pengaruh kombinasi dari hujan, ukuran saluran yang
relatif kecil, tingginya pasut, dan elevasi tanah. |
Perlu
perhatian terhadap drainase yang berlebihan bilamana saluran diperbesar
ataupun bila membuat sudetan ke sungai. Bangunan pengendali untuk mengatur
muka air sangat diperlukan. |
|
2.2
Surface flows from nearby peat forest/upland |
2.2
Aliran air permukaan bisa membasahi areal ini. |
Bahaya
drainase berlebihan bilamana saluran diperbesar. Pengendalian aliran
diperlukan dengan membangun tanggul dan bangunan pengendali. |
|
2.3
Tidak ada irigasi pasut.
Tipe luapan pasut C/
D.
|
2.3
Areal ini tidak bisa dibasahi oleh aliran permukaan maupun oleh irigasi
pasut. |
Biasanya
diperlukan pencucian yang intensif melalui sistem pengelolaan air di
tingkat lahan usaha tani untuk jenis tanah muck (organic) maupun pirit.
Tidak ada saluran buntu dan aliran satu arah di saluran utama dianggap
penting di tempat-tempat dimana panjang kanal ke sungai > 1,5 km.
|
| Drainabilitas |
Pengaruh
Panjang Kanal sampai Sungai |
Rekomendasi
dan Potensi Penggunaan |
|
3.1
Lahan tanpa potensi drainase yang
mencukupi.
Kedalaman efektif drainase <
30 cm (setelah hilangnya lapisan tanah gambut)
|
3.1.1
Panjang kanal < 1,5 km sampai sungai pasang surut.
Areal semacam ini biasanya dapat didrainase
pada saat surut rendah. |
Tanaman
padi biasanya bisa dibudidayakan. Perlu perhatian yang lebih besar untuk
penyempurnaan banyaknya hubungan ke sungai terdekat guna meningkatkan
potensi drainase. Tanaman keras hanya bisa tumbuh di guludan (sorjan).
|
| 3.1.2
Panjang kanal > 1,5 km sampai
sungai pasang surut.
Pada kasus
ini waktu yang tersedia untuk drainase pada saat surut rendah terlampau
singkat untuk memungkinkan drainase yang memadai. |
Tidak
dianjurkan untuk melakukan kegiatan pertanian di kawasan ini. Kawasan ini
sebagian besar meliputi tanah gambut. Opsi yang berhubungan dengan kegiatan
kehutanan dimana keperluan untuk drainase lahan bersifat minimum merupakan
opsi yang dianjurkan. |
|
3.2 Lahan
dengan potensi drainase yang mencukupi
Kedalaman
efektif drainase > 30 cm (setelah hilangnya
lapisan tanah gambut)
|
3.2.1
Kedalaman efektif drainase 30 –
60 cm. Panjang Kanal < 1,5 km sampai sungai pasang surut.
Selama
periode surut rendah lebih banyak waktu yang tersedia untuk drainase dan
potensi drainase setara dengan kualitas lahan 3.2.3 |
Dapat
direkomendasikan untuk tanaman keras maupun padi. |
| 3.2.1
Kedalama efektif drainase 30 – 60 cm. Panjang
kanal > 1,5 km sampai sungai pasang surut.
Selama
surut rendah waktu yang tersedia untuk drainase lebih singkat. |
Direkomendasikan
terutama untuk tanaman padi. Tanaman keras hanya bisa tumbuh di guludan
(sorjan). |
| 3.2.3
Kedalaman efektif drainase > 60 cm.
Di kawasan
semacam ini tidak pernah ada masalah drainase. |
Dikebanyakan kasus tanaman keras merupakan alternatif
terbaik. Di daerah yang drainasenya terhambat dengan sedimen marine tua
(lihat 4.2.2) biasanya digunakan untuk budidaya tanaman padi. |
|
4.1
Muck (Organik)/ Tanah Sulfat Masam |
4.1.1
Lahan potensial |
Keseimbangan yang ada antara oksidasi dan pencucian mencukupi untuk
mempertahankan tanah menjadi masam. Sangat penting untuk mematangkan tanah
dengan kepadatan rendah yang belum matang dengan menerapkan sistem
pengaturan air dangkal. Untuk memacu proses pematangan tanah jenis ini,
maka selama musim kemarau air tanah harus diturunkan 60 cm di bawah
permukaan tanah. Pada tanah yang sudah matang sangat mungkin penggunaan
irigasi pompa dikombinasikan dengan traktor dan terciptanya “plough-layer”
(tanah yang belum matang tidak bisa mempertahankan genangan air di atas
lahan). |
|
4.1.2
Lahan Sulfat Asam |
Potensi
untuk pencucian dan penggelontoran pada kondisi saat ini tidak mencukupi:
bisa kembali menjadi lahan potensial dengan menyempurnakan sistem pengaturan
air dikombinasikan dengan pengolahan tanah dengan mekanisasi, serta
menghubungkan dua saluran dan penggelontoran air satu arah. |
|
4.2 Bukan
Tanah Sulfat Masam |
4.2.1 Sedimen Marine
(laut)
Muda
|
Sebagian
besar jenis tanah ini berpotensi untuk ditanami padi atau kolam ikan. |
|
4.2.2
Sedimen Marine Tua |
Jenis
tanah ini utamanya untuk budidaya tanaman padi. Pembajakan tanah secara
dalam tidak dianjurkan karena bahaya tercampurnya lapisan atas tanah dengan
tanah beracun (aluminium). |
|
4.3
Tanah Gambut |
4.3
Kedalaman efektif drainase berkelanjutan (>30 cm) setelah subsider
(penurunan tanah) |
Bisa untuk budidaya tanaman keras. |
|
4.4 Kedalaman efektif
tidak berkelanjutan (<30 cm) setelah subsider (penerunan tanah) |
Tidak ada potensi
Pertanian atau potensi Perkebunan. Muka air tanah harus dekat muka tanah, kurang
30
cm di bawah tanah.
Berapa macam pohon rawa bisa tumbuh. (Pohon
Ramin?) |
|
4.4
Tanah dengan Kesuburan Rendah “Whitish” |
4.5
Kondisi hidrologis bisa beargam |
Potensi
untuk pertanian sangat rendah. Dengan semakin baiknya drainase, tanah jenis
ini berpotensi untuk “Melaleuce Forestry” |