Webpages with more general information

Start ] Contents ] Photos ] Environment ] Agriculture ] Management ] Farmers Life ] Conclusions ] Links ] Discussion ] 

Webpages with more detailed information.

Discussion Development

Thesis, CO2 adsorption/emissions
Yields
Kualitas Lahan
Land Qualities
Land Classes and Areas

Environmental Impacts

Impact, including CO2 emission
Problems, including CH4 emissions
Forest Fires
Landsat TM

Management inputs

Water Management System
Macro Design
Micro Design
Water Control
Model Areas
Institutions
Information System

 

 

Kualitas Lahan

Kualitas Lahan di Daerah Rawa Pasang Surut (Hidrologi dan Tanah)

Tabel ini mencakup kualitas lahan hidrologis dan karakteristik tanah yang mempunyai pengaruh penting terhadap desain dan potensi yang dimilikinya. Kualitas lahan juga dipengaruhi oleh proses dinamis, tidak kurang karena perubahan pada layout saluran dan desainnya, peningkatan saluran dan bangunan-bangunannya, atau oleh perubahan lingkungan, seperti misalnya lenyapnya dome gambut.

Diharapkan tabel ini akan menyumbangkan pemahaman yang lebih baik terhadap kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dan pengaruh yang diharapkan dari peningkatan proyek rawa pasang surut. Tabel ini hendaknya digunakan untuk kegiatan survey inventarisasi dan investigasi serta desain, baik pada tingkat mikro maupun tingkat makro.

Satuan Lahan di daerah rawa pasang surut merupakan kombinasi dari dua kualitas lahan hidrologis dengan satu kualitas tipe luapan lahan, satu kualitas drainabilitas lahan dan satu kualitas tipe tanah. Pengalaman yang ada sejauh ini sangat kurang untuk menentukan satuan lahan berdasarkan atas kualitas lahan seperti digambarkan pada tabel di bawah ini. Dari pengalaman dapat dipelajari kombinasi yang paling relevan dari kualitas lahan.

Pembatasan dari kualitas berdasarkan panjang saluran sampai sungai seperti di kemukakan pada tabel di bawah ini bersifat arbriter. Kesemuanya tergantung kepada desain dan layout dari sistem serta sangat dipengaruhi oleh kisaran pasang surut di sungai terdekat. Pembuatan model komputer dari masing-masing sistem saluran akan sangat memungkinkan dan dianjurkan untuk digunakan dalam menentukan batas-batas dari masing-masing kualitas lahan hidrologi. Berdasarkan alasan praktis pembatasan panjang saluran sampai sungai yang dikemukakan pada tabel di bawah ini didasarkan atas pengalaman secara umum yang dijumpai di daerah rawa pasang surut. Hendaknya dipahami bahwa untuk masing-masing areal dan layout di suatu scheme mungkin saja berbeda dan pembatasannya bersifat indikatif

Klasifikasi kualitas lahan mempertimbangkan kondisi lahan saat ini. Pada kasus dimana masalah genangan dijumpai di lapangan, diasumsikan bahwa kondisi saat ini ataupun tindakan-tindakan penyempurnaan yang diharapkan dilakukan mampu mengatasi masalah banjir atau genangan di lokasi.

Kualitas Lahan pada Hidrologi

Hidrologis/ Kualitas panjang kanal sampai sungai

Rekomendasi dan Potensi Penggunaan

1.1  Acaman (bahaya) intrusi air asin

 

1.1.1   Areal dimana intrusi air asin di saluran berlangsung selama 3 – 6 bulan Hanya berpotensi untuk tanam padi sekali setahun. Perlu diberikan perhatian ekstra untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga. Tanaman keras bisa saja merupakan pilihan yang lebih baik di areal dimana kedalaman efektif drainasenya memadai. Di areal dengan kisaran pasang surut yang kecil dianjurkan budidaya ikan/ udang.
 1.1.2   Areal dimana instrusi air asin di saluran berlangsung kurang dari 3 bulan. Potensial untuk tanama padi dua kali setahun. Sebagian terbesar dari lahan pasang surut yang sudah direklamasi tergolong dalam klasifikasi ini. 

1.2  Areal dimana kisaran pasang surutnya < 30 cm dalam musim hujan di sungai/ saluran primer/ saluran sekunder yang terdekat; jarak dari lokasi sampai saluran < 1,5 km.

(jika jarak ke saluran primer/ sekunder > 1,5 km kawasan semacam ini tidak tergolonglahan pasang surut.)

 

1.2.1     Areal dengan panjang kanal < 8 km sampai sungai pasang surut.

Kisaran pasang surut yang kecil di saluran pada panjang kanal < 8 km sampai sungai menunjukkan bahwa daerah semacam ini sudah berada di luar jangkauan engaruh pasang surut sungai, mendekati kepada bagain dari bantaran banjir sungai.

Areal semacam ini umumnya berbatasan dengan lebak (dataran banjir) dan biasanya memerlukan tanggul pengaman banjir. Pola tanaman harus disesuaikan dengan kondisi setempat. Perlu kehati-hatian terhadap tanah sulfat masam. Irigasi pompa sangat diperluka untuk lahan jenis ini. Aliran air satu arah di saluran dinilai penting.

1.2.1        Areal dengan panjang kanal > 8 km sampai sungai pasang surut.

Kisaran pasang surut yang kecil di sini biasanya menunjukkan daerah ini masih terjangkau oleh pasang surut muka air sungai, hanya masalahnya letaknya terlampau jauh dari sungai. Diperlukan tindakan  ekstra untuk pengaturan air di saluran.

 

Perlu perhatian khusus terhadap tanah sulfat masam. Apabila ada tanah sulfat masam maka perlu dijaga agar tanah tersebut dalam keadaan basah dimusim kemarau (lihat tipe luapan 2.2).

Irigasi pompa umunya sangat penting. Saluran primer utama perlu sejajar sungai dan dilengkapi dengan bangunan pengatur air searah.  

1.3   Areal dengan kisaran pasang surut > 30 cm selama musim hujan di sungai/ saluran primer/ saluran sekunder yang terdekat; jarak dari lokasi ke saluran < 1,5 km.  

1.3     Areal yang berbatasan dengan jangkauan pasang surut sungai.

Bagian terbesar dari lahan rawa pasang surut berada di kawasan ini.

Kualitas Hidrologis

Tipe Luapan

Hidrologis/ Kualitas panjang kanal sampai sungai

Rekomendasi dan Potensi Penggunaan

2.1  Irigasi pasang surut (pasut)

 

Tipe luapan pasut A/B.

Panjang kanal sampai sungai akan mempengaruhi potensi irigasi pasut dan tipe irigasi pasut.

 

 

 2.1.1   Kawasan dengan panjang kanal < 1,5 km sampai sungai pasang surut, tidak ada genangan/ luapan dalam. Kawasan yang mudah dikelola saluran sistem terbuka baik untuk suplai air dan drainase. Kawasan ini biasanya dikuasai oleh petani lokal yang telah ada sejak awal.
 2.1.2   Kawasan dengan panjang kanal < 1,5 km sampai sungai pasang surut, genangan/ luapan dalam. Tanggul untuk pengamanan banjir diperlukan. Diperlukan bangunan pengendali di tanggul.
 2.1.3        Kawasan dengan panjang kanal > 1,5 km sampai sungai pasang surut. 

Irigasi pasut tergantung kepada pengaruh kombinasi dari hujan, ukuran saluran yang relatif kecil, tingginya pasut, dan elevasi tanah.

Perlu perhatian terhadap drainase yang berlebihan bilamana saluran diperbesar ataupun bila membuat sudetan ke sungai. Bangunan pengendali untuk mengatur muka air sangat diperlukan.

2.2 Surface flows from nearby peat forest/upland  2.2   Aliran air permukaan bisa membasahi areal ini.  Bahaya drainase berlebihan bilamana saluran diperbesar. Pengendalian aliran diperlukan dengan membangun tanggul dan bangunan pengendali.
 2.3  Tidak ada irigasi pasut.

Tipe luapan pasut C/ D.

 

 2.3    Areal ini tidak bisa dibasahi oleh aliran permukaan maupun oleh irigasi pasut.

 Biasanya diperlukan pencucian yang intensif melalui sistem pengelolaan air di tingkat lahan usaha tani untuk jenis tanah muck (organic) maupun pirit. Tidak ada saluran buntu dan aliran satu arah di saluran utama dianggap penting di tempat-tempat dimana panjang kanal ke sungai > 1,5 km.
 Drainabilitas  Pengaruh Panjang Kanal sampai Sungai  Rekomendasi dan Potensi Penggunaan

3.1  Lahan tanpa potensi drainase yang mencukupi.

 

Kedalaman efektif drainase < 30 cm (setelah hilangnya lapisan tanah gambut)

 

 3.1.1  Panjang kanal < 1,5 km sampai sungai pasang surut.

Areal semacam ini biasanya dapat didrainase pada saat surut rendah.

 Tanaman padi biasanya bisa dibudidayakan. Perlu perhatian yang lebih besar untuk penyempurnaan banyaknya hubungan ke sungai terdekat guna meningkatkan potensi drainase. Tanaman keras hanya bisa tumbuh di guludan (sorjan). 
 3.1.2        Panjang kanal > 1,5 km sampai sungai pasang surut.

Pada kasus ini waktu yang tersedia untuk drainase pada saat surut rendah terlampau singkat untuk memungkinkan drainase yang memadai.

 Tidak dianjurkan untuk melakukan kegiatan pertanian di kawasan ini. Kawasan ini sebagian besar meliputi tanah gambut. Opsi yang berhubungan dengan kegiatan kehutanan dimana keperluan untuk drainase lahan bersifat minimum merupakan opsi yang dianjurkan.

3.2 Lahan dengan potensi drainase yang mencukupi

 Kedalaman efektif drainase > 30 cm (setelah hilangnya lapisan tanah gambut)

 

 

 3.2.1        Kedalaman efektif drainase 30 – 60 cm. Panjang Kanal < 1,5 km sampai sungai pasang surut.

Selama periode surut rendah lebih banyak waktu yang tersedia untuk drainase dan potensi drainase setara dengan kualitas lahan 3.2.3

 Dapat direkomendasikan untuk tanaman keras maupun padi.
 3.2.1        Kedalama efektif drainase 30 – 60 cm. Panjang kanal > 1,5 km sampai sungai pasang surut.

Selama surut rendah waktu yang tersedia untuk drainase lebih singkat.

 Direkomendasikan terutama untuk tanaman padi. Tanaman keras hanya bisa tumbuh di guludan (sorjan).
 3.2.3    Kedalaman efektif drainase > 60 cm.

Di kawasan semacam ini tidak pernah ada masalah drainase.

Dikebanyakan kasus tanaman keras merupakan alternatif terbaik. Di daerah yang drainasenya terhambat dengan sedimen marine tua (lihat 4.2.2) biasanya digunakan untuk budidaya tanaman padi.

Kedalaman efektif drainase adalah perbedaan antara rata-rata permukaan tanah dengan rata-rata muka air di saluran sekunder terdekat yang depengaruhi oleh gerakan pasang surut. Setelah upgrading/ rehabilitasi saluran dilakukan, maka kedalama efektif drainase akan semakin baik, dengan demikian berpengaruh terhadap kualitas lahan secara dinamis.

 4.1 Muck (Organik)/ Tanah Sulfat Masam  4.1.1 Lahan potensial   Keseimbangan yang ada antara oksidasi dan pencucian mencukupi untuk mempertahankan tanah menjadi masam. Sangat penting untuk mematangkan tanah dengan kepadatan rendah yang belum matang dengan menerapkan sistem pengaturan air dangkal. Untuk memacu proses  pematangan tanah jenis ini, maka selama musim kemarau air tanah harus diturunkan 60 cm di bawah permukaan tanah. Pada tanah yang sudah matang sangat mungkin penggunaan irigasi pompa dikombinasikan dengan traktor dan terciptanya “plough-layer” (tanah yang belum matang tidak bisa mempertahankan genangan air di atas lahan). 
 4.1.2 Lahan Sulfat Asam  Potensi untuk pencucian dan penggelontoran pada kondisi saat ini tidak mencukupi: bisa kembali menjadi lahan potensial dengan menyempurnakan sistem pengaturan air dikombinasikan dengan pengolahan tanah dengan mekanisasi, serta menghubungkan dua saluran dan penggelontoran air satu arah.
4.2 Bukan Tanah Sulfat Masam

4.2.1 Sedimen Marine (laut) Muda

 

Sebagian besar jenis tanah ini berpotensi untuk ditanami padi atau kolam ikan.
4.2.2 Sedimen Marine Tua Jenis tanah ini utamanya untuk budidaya tanaman padi. Pembajakan tanah secara dalam tidak dianjurkan karena bahaya tercampurnya lapisan atas tanah dengan tanah beracun (aluminium).
 4.3 Tanah Gambut  4.3  Kedalaman efektif drainase berkelanjutan (>30 cm) setelah subsider (penurunan tanah)  

Bisa untuk budidaya tanaman keras.

4.4 Kedalaman efektif tidak berkelanjutan (<30 cm) setelah subsider (penerunan tanah) Tidak ada potensi Pertanian atau potensi Perkebunan. Muka air tanah harus dekat muka tanah, kurang 30 cm di bawah tanah.

Berapa macam pohon rawa bisa tumbuh. (Pohon Ramin?)

 4.4 Tanah dengan Kesuburan  Rendah “Whitish”  4.5  Kondisi hidrologis bisa beargam  Potensi untuk pertanian sangat rendah. Dengan semakin baiknya drainase, tanah jenis ini berpotensi untuk “Melaleuce Forestry”

See also Peat Soils : Subsidence problem.

Untuk lihat peta2 survai rawa pasang surut Indonesia, goto teamwebsite tidal-lowlands.org . Perlu  username: tamu dan password: banyuasin. Bisa juga download tiap peta. (Format A3, tetapi format A4 bisa juga)


According Webhits you are visitor No   to this web site since 1 January 2003